Sang Guruku di Tanah Perantauan (Part 2)

Sang Guruku di Tanah Perantauan (Part 2)
Oleh: Gunawan


Sahrul, foto pertama dari kiri (baju hijau hitam).


Orangnya tak banyak bicara. Hanya inti-intinya saja, kalau pun berbicara. Tidak basa-basi. Disiplin, tidak pernah aku melihatnya malas untuk berangkat ke kampus apalagi sampai absen. Memang tak sama tempat kuliahku dengan beliau. Namun, aku tahu persis kesehariannya, sebab satu kamar kos denganku. Ya, itulah memang beliau yang sesungguhnya. Sahrul, namanya. Sosok yang kalem. Kakak sekaligus guru bagiku.

Walau tak banyak bicara, namun di situlah letak kehebatan dan keistimewaan beliau. Pernah suatu waktu, aku dan beberapa teman satu kontrakan “diceramahi” olehnya, lantaran karena ada suatu hal yang beliau lihat terhadap apa yang kami lakukan yang tidak baik, menurutnya. Tak satu pun dari kami yang berani berkutip, apalagi “membantah.” Diam-diam, namun sangat dahsyat kala berbicara.

Beliau tak suka bila ada orang yang hanya jagonya berucap, namun tak pernah direalisasikan apa yang menjadi ucapannya. Itulah barangkali, mengapa beliau tidak banyak berbicara. Aku suka sekali dengan karakternya yang seperti itu.

Memang, dahulu ketika masih sekolah dasar, aku dengan beliau sering beradu mulut. Ya, namanya masih kecil dan anak-anak. Pasti ada saja yang dipersoalkan. Dan, saking nakal dan bandelnya diriku, pernah aku berantam dengan beliau sampai membuatnya menangis. Padahal, beliau lebih tua dariku. Orangtua kami pun (ayah) langsung menghukumku, akibat kejadian itu. Namun, aku tak pernah kapok.

Seiring berjalannya waktu, beranjak dewasa, kami pun bisa akur. Puncaknya, ketika berada jauh dari kampung halaman. Apalagi saat itu, hanya beliau seorang dari anggota keluarga yang selalu dan bisa memahamiku.

Mengenai semangat menimba ilmu dan perkuliahan, tanpa berlebihan aku ingin katakan, beliaulah guru sejatiku. Salah satu alasannya adalah oleh karena kedisiplinannya yang begitu tinggi. Padahal, jarak dari kontrakan dengan tempat kuliah tidak begitu dekat. Kurang lebih dua belas kilometer. Hanya bermodalkan angkot (pete-pete, istilahnya di Makassar) beliau berangkat ke kampus, tak pernah beliau merasa bosan apalagi mengeluh. Beliau sangat menikmati itu.

Pagi-pagi, beliau sudah beres dan siap-siap untuk berangkat ke kampus. Pulangnya, kadang sore, kadang juga malam hari. Bahkan, makan pun beliau sering lupa, saking semangatnya mencari butiran-butiran mutiara ilmu.

Semangat inilah yang membuatku selalu termovitasi untuk belajar dan terus menimba ilmu. Spiritnyalah yang mengajarkanku agar tak pernah menyerah dan terus meraih setiap apa yang kuimpikan.

Satu juga kebiasaan beliau yang kukagumi. Beliau tak suka memerintah, namun lebih kepada memberi contoh. Sehingga, aku khususnya, ikut juga bekerja atau melakukan sesuatu seperti apa yang beliau kerjakan atau lakukan (dalam hal positif).

Terima kasih, karena telah mengajarkanku banyak hal. Terima kasih, karena tak pernah bosan membimbing dan mendidikku, walau aku sering bandel dan keras kepala. Terima kasih, karena telah bersedia menjadi kakak, orangtua, sekaligus guru bagi pribadi yang penuh dengan dosa ini. Sekali lagi, terima kasih dan terima kasih. Semoga amal baiknya selama ini mendapatkan balasan yang setimpal dari-Nya.

Maafkan aku bila selama ini telah membuatmu kadang menangis karena melihat kelakuan adikmu ini yang tidak baik dan susah diatur. Tetaplah berbuat atau menebar kebaikan dan menjadi inspirasi untuk siapa pun.

Wallahu a’lam.
Share This :