Sang Guruku di Tanah Perantauan (Part 1)

Sang Guruku di Tanah Perantauan (Part 1)
Oleh: Gunawan


Ada satu nasihat dari orangtuaku, yang masih kuingat hingga kini. Bahwa, bila berada di tanah perantauan, maka yang menjadi orangtua sekaligus kakakmu di sana adalah senior-seniormu yang terlebih dahulu menginjakkan kaki di tanah tersebut. Jangan memandang umurnya. Mau tua, mau muda, yang penting telah terlebih dahulu berada di tanah perantauan seperti yang dimaksud.

Nasihat itulah yang selalu kuingat di kala studi di kota Makassar. Sesungguhnya, bukan saja orangtuaku yang mengatakan demikian. Di kota Daeng juga, aku khususnya, mendapatkan nasihat yang sama dari seniorku yang sudah lama dan duluan berada di tempat tersebut. Mansyur, namanya. Beliaulah yang selalu memberikan nasihat sekaligus memotivasiku ketika berada jauh dari keluarga dan orangtua.

Aku masih ingat, ketika awal sampai di kota Anging Mamiri tersebut, aku langsung diajak olehnya untuk jalan-jalan dan berkenalan dengan beberapa temannya, dan juga beberapa calon mahasiswa baru. Tujuannya tidak lain, agar aku tidak merasakan kesedihan oleh karena berada jauh dari orangtua, juga untuk melatih mentalku bila berhadapan dengan para senior dan sesama angkatan. Benar demikian. Terkadang aku malu, apalagi berada dalam satu forum dengan teman-temannya yang begitu hebat. Padahal, aku kala itu, belum tahu apa-apa tentang dunia kampus. Namun, itulah beliau. Selalu mengajakku untuk memperkenalkan ini dan itu. Aku tak pernah bosan. Beliau tahu betul, bagaimana cara memperlakukan orang baru dengan lingkungan baru.

Di saat mengikuti tes masuk perguruan tinggi, aku diantar olehnya seorang diri. Jarak dari kos ke tempat tes kurang lebih tiga kilometer. Kami berjalan kaki. Setelah tiba di lokasi tes, tanpa kutahu, beliau meninggalkanku seorang diri. Akhirnya, usai tes, aku pun pulang sendirian. Aku kebingungan waktu itu. Sebab, aku belum terlalu hafal jalan pulangnya, juga pertama kalinya lewat jalan itu. Apalagi di daerah perkotaan yang jalannya bercabang-cabang dan banyak sekali. Maklumlah, anak desa. Hehehe.

Awalnya, ketika berangkat, aku memang ingat jalannya harus ke sini dan ke situ. Bahkan, banyak belokan pun sudah kuhitung. Namun, karena pertama kalinya lewat jalan yang dimaksud, jadi ingatanku seolah lupa seketika. Hanya beberapa yang kuingat. Yang membuat aku benar-benar bingung adalah ketika tiba di per-tiga-an. Dalam hatiku bertanya, apakah benar ini jalan yang dilewati tadi? Lama aku berdiam dan berhenti sekaligus istirahat di per-tiga-an tersebut. Untung aku ingat warna cat salah satu gedung di sekitar belokan tersebut. Akhirnya, aku memutuskan untuk jalan lagi dan mengikuti kata hatiku. Hingga akhirnya, tiba juga di kontrakan.

Sampai sekarang aku tidak tahu, apakah beliau (kanda Mansyur) sengaja meninggalkanku kala itu atau tidak. Namun, yang pasti itu adalah bagian dari pelajaran hidupku. Mungkin saja beliau sengaja melakukannya dan membiarkanku untuk pulang sendirian, agar aku bisa mandiri tanpa harus didampingi lagi. Dan, aku mengambil pelajaran dari kejadian itu, bahwa aku harus mulai bisa mandiri dan berani membuat keputusan serta menerima setiap konsekuensinya.

Beliau merupakan orang pertama yang memperkenalkanku dengan buku-buku, hingga mengunjungi toko buku. Aku pun mulai tertarik untuk membaca dan mengoleksi berbagai jenis buku, salah satunya karena beliau. Beliau benar-benar sang guru bagiku ketika berada di tanah perantauan.

Beliau begitu sabar membimbingku, tanpa ada rasa bosan. Padahal, beliau tahu kalau aku sangat keras kepala. Barangkali, tanpa bimbingan dan didikan dari beliau yang begitu “pahit dan keras” kala itu, aku tidak akan bisa seperti sekarang ini.

Pertama kalinya aku mengenal dunia organisasi baik eksternal maupun internal kampus, juga berkat beliau. Salah satu organisasi yang beliau perkenalkan padaku kala itu adalah study club bahasa Inggris, namanya New Generation Club (NGC). Pokoknya, banyak sekali jasa beliau padaku, juga pengalaman hidup yang kudapatkan.

Wallahu a’lam.

Share This :