Jangan Lupa Pengorbanan Orang Tua!

Jangan Lupa Pengorbanan Orang Tua!
Jangan Lupa Pengorbanan Orang Tua!
Oleh: Gunawan
Saya sengaja menentukan judul seperti di atas, hanya untuk mengingatkan pada diri pribadi saya, akan betapa susahnya pengorbanan orang tua saya membesarkan, mengasuh, dan mendidik saya sampai sekarang ini. Namun, bila Anda juga merasakan hal yang sama dengan saya, Alhamdulillah.

Selanjutnya, saya ingin mengawali tulisan ini juga dengan sebuah pertanyaan, untuk saya dan Anda sekalian. Pernahkah kita memikirkan atau membayangkan betapa kerasnya ibu dan bapak kita bekerja untuk membiayai hidup kita, untuk membiayai sekolah/perkuliahan kita? Cukup Anda merenungkan dan menjawabnya dalam hati.

***

Baiklah, saya ingin bercerita sedikit. Bapak saya hanyalah seorang petani. Sedangkan, ibu saya hanyalah penjual (keliling) dari kampung ke kampung. Itulah, yang mereka lakukan tiap harinya. Mereka rela bekerja keras dan “banting tulang” setiap hari demi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tak pernah mereka merasakan teriknya matahari, dinginnya hujan. Mereka tak pedulikan itu. Karena yang mereka pikirkan hanyalah mencari nafkah untuk pendidikan anaknya.

Mungkin ada juga di antara Anda yang merasakan hal yang sama seperti sepenggal cerita saya di atas. Ya, orang tua kita pasti bekerja keras, tak mengenal lelah atau capek, demi keperluan pendidikan anaknya. Bahkan, mungkin ada di antara Anda, yang mana orang tuanya rela menjual tanah, sawah, kebun, sapi, kerbau, atau pun cincin emas satu-satu hanya untuk membiayai anak-anaknya yang sementara menempuh pendidikan di sekolah/perguruan tinggi. Atau, mungkin juga ada yang ngutang sana-sini untuk bayar uang semester, uang kos, atau keperluan lainnya, dan bahkan mereka harus menahan malu untuk meminta bantuan pada orang lain agar anaknya tetap berjalan sekolah/kuliahnya di sekolah/kampus, agar tidak terhenti sekolah/kuliahnya karena permasalahan biaya.

Apakah hal demikian disadari oleh anak mereka? Mungkin banyak juga di antara pelajar/mahasiswa yang pernah menyadari akan hal ini. Akan tetapi, kemudian lupa dan bahkan mungkin bersikeras untuk hidup berfoya-foya, tidak berhemat, menghambur-hamburkan uang, dan pada akhirnya mengalami kesulitan ekonomi (finansial).

Apakah kita tetap membuang waktu dengan bermain-main, pergi berfoya-foya, malas belajar, sementara di kampung, orang tua kita “membanting tulang” yang terkadang mereka menitikkan air mata meratapi nasib mereka sendiri. Semua ini, tidak lain hanyalah untuk anaknya tercinta. Mari kita bersama-sama untuk merenunginya!

Kenyataan di balik bahagianya kita menjadi pelajar/mahasiswa, senangnya kita bermain-main dengan teman-teman sekolah/kampus, berpacaran, jalan-jalan ke tempat hiburan; namun, sekali lagi, di tempat lain, orang tua kita menanggung beban berat dan bahkan mereka mungkin tidak akan pernah memanjakan diri mereka sendiri dengan kegiatan bersenang-senang.

Mulai dari sekarang, semoga saja kita sudah paham dengan kondisi yang sebenarnya tersebut. Masih maukah kita menyia-nyiakan pengorbanan orang tua kita dengan kemalasan kita untuk belajar, kenakalan kita di sekolah/kampus, dengan sikap berfoya-foya dan menghamburkan uang?

Mari, mulai dari sekarang, bertekadlah untuk membahagiakan orang tua kita. Walaupun sekarang kita belum bisa memberinya uang, tetapi paling tidak berilah mereka kebahagiaan dengan kelakuan kita yang baik, prestasi yang baik, dan semangat belajar yang tinggi. Hal ini, bagi mereka sudah cukup bahagia dan bangga.

Jangan pernah membuat mereka merasakan kesedihan karena ulah kita. Apalagi sampai membuat orang tua kita terluka hatinya. Teruslah memperbaiki diri, perbaiki ibadah kita dan selalu do’akanlah mereka setiap kali selesai shalat. Mintalah kepada Sang Pencipta, kiranya kita masih bisa membahagiakan mereka, selama mereka masih hidup. Yakinlah, kita tak akan bisa seperti sekarang ini tanpa pengorbanan kedua orang tua kita. 

Wallahu a’lam.

Ditulis pada hari Minggu, 19 Februari 2017

Share This :