Sahabat Seperjuangan (Part 2)

Sahabat Seperjuangan (Part 2)
Oleh: Gunawan


Sahabat saya yang satu ini merupakan orang yang haus sekali dengan ilmu pengetahuan. Namanya adalah Aksan. Saya dan beberapa sahabat yang lain sering memanggilnya sebagai “domba yang tersesat.” Hehehe. Selain dari sahabat, ia juga memiliki hubungan keluarga dengan saya.

Sedikit berbeda dengan Muhidin, seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, ia (Aksan) tidak begitu akrab dengan saya ketika SD, kendati mempunyai hubungan keluarga. Bahkan, pernah satu waktu ketika bermain kelereng di halaman sekolah, saya pernah berantam dengannya. Memang, waktu SD, saya merupakan salah satu murid yang nakal dan bandel.

Seiring berjalannya waktu, masuk SMP dan SMA, saya mulai akrab dengannya, meskipun pertemuan dengannya tidak begitu intens. Akan tetapi, benih-benih persahabatan mulai tumbuh dan terasa. Dan, puncak daripada persahabatan ini adalah ketika sama-sama menimba ilmu di kota Makassar.

Banyak hal yang menarik dan unik dari sahabat seperjuangan saya yang satu ini. Pertama, ia pernah melakukan sesuatu yang barangkali orang lain belum pernah melakukannya. Ya, belum lama tiba di Makassar (tinggal di kos-kosan), ia pernah mencuci ricecooker (hanya kabel sambungannya saja yang tidak ia cuci). Hahaha. Kejadian ini diketahui, ketika kanda Mansyur (kakaknya Aksan) menanyakan keberadaan ricecooker tersebut karena tidak terlihat di dalam kamar kos seperti biasanya. Saya pun memberitahukan kepada kanda Mansyur, bahwa ricecooker yang dimaksud masih berada di bawah terik matahari, sedang dijemur dan masih menunggu kering, lantaran semuanya dicuci oleh Aksan. Hihihi.

Kedua, hampir setiap saya melihat ia dengan kakaknya, keduanya seolah-olah Tom and Jerry. Ya, keduanya jarang akur. Sering adu mulut, walau dalam persoalan yang sangat sederhana. Begitulah yang terjadi di kala itu, walau tidak setiap hari. Namun demikian, menurut saya, itu merupakan bagian dari didikan kanda Mansyur kepada adiknya dan juga kepada kami semuanya agar menjadi orang yang lebih baik lagi ke depannya dan memiliki mental yang kuat serta tidak cengeng.

Seperti yang saya tulis di paragraf pertama di atas, Aksan merupakan salah satu sahabat saya yang sangat haus akan ilmu pengetahuan. Saking hausnya akan itu, ia jarang sekali pulang dan berdiam diri di kos. Walau sempat pulang ke kos, itu pun hanya pulang untuk istirahat sejenak dan mengisi perut yang kosong. Ya, ia selalu memburu berbagai pengetahuan, baik di area kampus maupun di berbagai ragam organisasi.

Keseringan dan kesibukannya menimba ilmu itulah yang membuat dirinya semakin kaya akan wawasan dan berbagai pengetahuan. Dan juga, hampir semua organisasi yang ia masuki pernah dinakhodainya. Ia merupakan orang yang betul-betul memiliki tekad dan spirit yang kuat untuk selalu menghiasi dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan.

Memang, jika dilihat dari segi finansial, saya dan sahabat lainnnya, termasuk Aksan, sama sekali tidak mendukung, bahkan jauh dari kata cukup. Pernah beberapa hari, kami sempat mengganjal perut hanya dengan daun kangkung yang kami ambil di rawa-rawa dekat kos-kosan, sebab uang dan beras kala itu sedang tidak bersahabat dengan kami. Akibat keseringan makan daun kangkung yang dimaksud, perut kami pun menceret. Hidup yang seperti ini, sesungguhnya bukanlah suatu hal yang baru bagi kami, sehingga kami selalu menikmatinya.

Kembali pada topik. Sahabat saya yang satu ini, orangnya pantang menyerah, tekun, kutu buku, dan mempunyai semangat juang yang cukup tinggi. Kesehariannya, selalu diisi dengan sesuatu yang positif, seperti membaca berbagai buku, beroganisasi, mengisi kajian atau diskusi di berbagai organisasi, dan lainnya. Saya betul-betul kagum dengannya. Saya sangat salut dengannya. Bersyukur saya bisa menjadi salah satu sahabat seperjuangannya. Ia merupakan salah satu guru saya, khususnya ketika berada di tanah perantauan. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya peroleh darinya.

Kini, ia sudah mengabdi di salah satu perguruan tinggi di Kalimantan Timur. Tepatnya, di Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, pada prodi Pendidikan Sejarah. Alhamdulillah, suatu kebanggaan dan kebahagiaan, khususnya bagi saya, sebab pada 21 Juli 2017 lalu, ia berhasil menerbitkan buku solo perdananya yang berjudul “Islam Transnasional.” Dan, sekarang sedang dalam proses percetakan. Buku tersebut merupakan karya ilmiah (tesisnya) ketika S2 di Universitas Negeri Makassar dulu. Semoga berkah.

Wallahu a’lam.

Share This :