Sahabat Seperjuangan (Part 1)

Sahabat Seperjuangan (Part 1)
Oleh: Gunawan


Muhidin, namanya. Ia merupakan salah satu sahabat seperjuangan saya sejak SD. Saya masih ingat betul, bahwa dulu kami sering bermain bersama, baik di lingkungan sekolah maupun ketika pulang dari sekolah. Bahkan, kami juga sempat menamakan diri sebagai grup DKI Kw. Ada-ada saja. Hehehe. Di mana, Anwar (salah seorang sahabat) adalah sebagai Dono, saya sendiri sebagai Kasino, dan Muhidin adalah sang Indro. Entah mengapa penamaan tersebut muncul kala itu. Saya benar-benar lupa.

Sepulang sekolah, hampir setiap hari kami bermain bersama-sama. Saking eratnya hubungan persahabatan kami bertiga tersebut, hingga tidur di malam hari pun, kadang bergiliran tempat. Maksudnya, misalnya malam ini di rumah saya, besok di rumahnya Anwar, dan lusa di rumahnya Muhidin. Namun, lebih sering di rumahnya Anwar dan Muhidin.

Setiap selesai musim panen kedelai, kami sering mencari jamur kedelai (istilahnya di kampung saya adalah “kabubu”) untuk kami santap ketika malam hari tiba. Itulah yang kami lakukan kala itu, mencari sesuatu untuk dinikmati secara bersama-sama.

Singkat cerita, setelah tamat SD, kami berpisah. Kami tidak lagi satu sekolah. Secara terpisah, kami harus berjuang dan berusaha untuk menimba ilmu dengan sungguh-sungguh di tempat sekolah masing-masing. Saya sendiri berada di daerah lain, jauh dari kampung halaman. Tentunya kami tidak bisa lagi bersama-sama seperti waktu SD. Namun, ketika pulang libur, kadang ada waktu untuk bermain bersama-sama, walau porsi dan nuansanya tidak sama dengan waktu masih SD.

Akhirnya, setelah tamat SMA, saya memutuskan untuk melanjutkan studi di kota Daeng (Makassar). Tentu, jarak kami semakin jauh. Namun, berkat izin Tuhan, beberapa minggu kemudian, saya dan Muhidin bisa bersama lagi untuk menimba ilmu di kota Anging Mamiri tersebut. Senang rasanya, karena masih bisa bersama dengan salah satu sahabat terbaik dan seperjuangan.

Dalam perjuangan kami menuntut ilmu di kotanya Pantai Losari tersebut, tentu tidaklah mulus. Pahit dan berbagai tantangan sering kami rasakan. Ya, banyak cobaan yang kami alami di tanah perantauan tersebut. Namun, kami tidak pernah merasa putus asa. Semua cobaan dan tantangan terus kami hadapi.

Jujur, kami hanya bermodalkan nekat untuk menimba ilmu di kota Makassar. Sebab, kami bukanlah orang yang berpunya. Orangtua kami berprofesi sebagai petani. Bahkan, ongkos ke Makassar dan uang saku yang kami nikmati di tanah perantauan adalah tidak sedikit sumbangan dari masyarakat di kampung. Itulah memang keadaan kami. Namun, walau ekonomi keluarga pas-pasan, bukan merupakan halangan dan hambatan bagi kami untuk menuntut ilmu. Justru ini merupakan motivasi terbesar bagi kami untuk terus belajar dan belajar, baik di lingkungan kampus, maupun di berbagai organisasi yang kami ikuti.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun yang dilalui, kami menikmati kebersamaan dan persahabatan di tanah perantauan tersebut. Kami terus dan saling memotivasi satu sama lain untuk terus bermawas dan menghiasai diri dengan berbagai butiran ilmu. Masuk dan menimba ilmu di berbagai organisasi kala itu adalah salah satu bentuk komitmen kami bersama. Demi memantaskan diri menjadi lebih baik lagi ke depannya. Itulah yang kami lakukan hingga studi di kota Makassar selesai, yaitu saling memotivasi di antara sesama. Tentu harapan, salah satunya, adalah agar berbagai pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki, nantinya ketika pulang atau kembali ke kampung halaman dapat memberikan manfaat dan mempunyai kontribusi nyata untuk perbaikan dan pembangunan di sana.

Ya, Muhidin adalah salah satu sahabat seperjuangan saya yang terbaik. Beruntung saya bisa menjadi sahabatnya. Ia adalah orang yang sangat luar biasa dan hebat. Saya sering berguru dan banyak belajar darinya. Saya bangga dan salut dengan kepribadiannya yang begitu hebat, tangguh, dan pantang menyerah.

Alhamdulillah, Rabu, 26 Juli 2017, merupakan salah satu momen yang sangat indah dan bersejarah baginya. Ia berhasil menuntaskan studi lanjutannya (S2), di salah satu universitas di Jakarta, pada program studi Administrasi Publik. Saya sangat bahagia dan senang mendengarnya. Semoga ilmunya mampu memberikan kemaslahatan dan keberkahan bagi masyarakat, agama, bangsa, dan negara.

Wallahu a’lam.

Share This :
avatar

Keren Mas Gunawan, sangat menginspirasi

Delete 26 July 2017 at 20:32
avatar

Terima kasih mbak sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan yang sangat sederhana ini. Semoga ada manfaatnya.

Tulisan mbak Eka Sutarmi juga sangat bagus dan keren.

Delete 10 August 2017 at 10:15