Mengapa Harus Malu untuk Menulis?

Mengapa Harus Malu untuk Menulis?

Oleh: Gunawan


Judul tulisan di atas, tentu berupa sebuah kalimat tanya. Pertanyaan seperti yang tertera pada judul di atas, merupakan pertanyaan yang saya lontarkan kepada rekan-rekan saya di beberapa organisasi yang saya “bina” ketika berdiskusi dengan mereka beberapa hari yang lalu. Saya melontarkan pertanyaan tersebut, karena masih banyak di antara mereka yang merasa malu untuk menulis. Mereka ingin sekali belajar menulis, namun dalam diri mereka masih ada rasa malu untuk memulainya.

Alasannya, bermacam-macam. Ada yang malu bilamana tulisan yang dihasilkannya nanti tidak berbobot/berkualitas. Ada yang takut dikritik. Ada yang takut salah. Pun, ada juga yang masih minder dan belum percaya diri untuk mulai menulis.

Menurut saya, alasan seperti yang tersebut di atas adalah hal yang wajar-wajar saja. Sebab, barangkali ini merupakan sesuatu yang baru bagi mereka. Karena merupakan hal yang baru, maka rasa cemas dan was-was pun pasti ada. Barangkali hal yang seperti ini dirasakan juga oleh calon penulis, dan penulis pemula.

Namun, bila hal seperti yang disebutkan di atas terus menghantui kita, sampai kapan pun kita tidak akan bisa menulis dan menghasilkan karya tulis. Bukankah, ketika kita memasang atau menuliskan status di media sosial, seperti Facebook, Instagram, BBM, Line, Twitter, dan lainnya, kita tidak pernah cemas dan was-was? Buktinya, kita bisa menulis status-status di berbagai media sosial yang kita miliki. Itu dilakukan hampir setiap hari. Dan juga, status yang ditulis/diposting setiap harinya terkadang bisa berpuluhan kali. Entah itu status yang menggembirakan, menyedihkan, bahkan menyakitkan, banyak di antara kita yang  tetap mau “memamerkannya” lewat media sosial.

Dalam diskusi tersebut, kemudian saya mencoba meminimalisir rasa malu dan “ketakutan” mereka. Saya katakan, “bahwa kalian tidak perlu malu, takut, atau apa pun namanya. Silakan menulis saja apa adanya. Yang penting kalian menulis saja dulu. Tidak usah takut dikritik, takut salah, takut dimaki, dan lainnya. Abaikan saja bila ada komentar yang menurut kalian kurang menyenangkan. Jadikan itu sebagai motivasi dan penyemangat kalian untuk terus menulis, menulis, dan menulis.”

Lanjut saya katakan, “tulis saja seperti halnya kalian menulis status-status di media sosial (medsos) milik kalian. Tumpahkan semua perasaan kalian, sehingga terurai menjadi sebuah tulisan. Penting juga diperhatikan, tulislah sesuatu yang kalian sukai, kuasai, dan pahami. Tujuannya, agar tulisan kalian mengalir. Misalnya, yang disukai puisi maka tulislah puisi, suka cerita inspiratif maka tulislah cerita inspiratif, dan lainnya.”

Alhamdulillah, setelah saya berusaha meyakinkan mereka, selang beberapa jam kemudian, ada beberapa di antara mereka yang langsung mulai menulis dan mempostingnya lewat akun Facebook pribadinya dan juga membaginya lewat grup Facebook organisasi mereka. Keesokan harinya, jumlah mereka yang mulai menulis dan memposting tulisannya semakin bertambah. Sampai sekarang, alhamdulillah, mereka sudah tidak lagi merasa “malu” atas tulisan yang ditulis dan dipostingnya.

Saya sendiri merasa bangga dan bahagia melihat keseriusan dan semangat mereka untuk mau belajar dan berbagi lewat karya tulis. Senang rasanya karena masih banyak juga di antara rekan-rekan saya yang masih peduli dan “menyukai” aktivitas tulis-menulis. Semoga ini menjadi awal bagi kami khususnya, untuk menggaungkan literasi di mana pun kami menimba ilmu dan mengabdi. Semoga berkah.

Wallahu a’lam.

Share This :